Tahu peribahasa yang satu itu kan? Bisa bermakna positif, di mana semua hal buruk dan menyedihkan yang sekian lama kita alami, akan mudah kita lupakan dengan satu saja peristiwa membahagiakan yang kita temui setelahnya. Atau bisa juga bermakna negatif, di mana semua jasa kebaikan dan amal sholeh seseorang, akan mudah dilupakan dan diabaikan masyarakat, setelah sekali saja orang itu melakukan sesuatu yang tidak berkenan di masyarakat.
Apapun, satu sisi dari peribahasa itu menggambarkan bahwa manusia itu mudah melupakan sesuatu yang dirasakannya sekian lama, setelah mengalami satu peristiwa yang punya kesan berlawanan dengan yang dirasakan selama ini. Dan menurutku pribadi, itu sama sekali bukan hal yang buruk. Itu bukan hal buruk, terutama karena aku yakin bahwa Allah pastilah menyertakan sifat itu dengan suatu maksud yang baik.
Dua peristiwa yang kualami membuatku teringat pada peribahasa ini.
Yang pertama, adalah pengalamanku naik kereta api ekonomi pertama kali ke Jakarta. Saat itu, karena belum tahu trik menggunakan moda kereta ekonomi, aku terjebak situasi di dalam gerbong yang penuh penumpang. Yang bahkan untuk duduk nglesot pun nggak nyaman lagi. Suatu saat, stasiun Purwokerto, ada beberapa penumpang naik. Di antaranya dua anak perempuan usia sekitar SMP. Jelas gak dapat tempat duduk, dan juga gak dapat tempat untuk sekedar lesehan. Setelah melewati satu atau dua stasiun, aku kasihan juga melihat mereka, jadi kuserahkan ‘singgasana’ lesehanku untuk mereka. Dengan konsekuensi tentunya gantian aku yang berdiri. Lumayan juga, perkiraanku sampai stasiun Pasar Senen masih sekitar 5 jam lagi.
Dan seperti perkiraanku, berdiri pada situasi itu sangat nggak nyaman
sudahlah harus berdiri, untuk mengubah/menggerakkan telapat kaki pun sangatlah susah, he… . Jadi entah setelah berapa lama, kaki rasanya kesemutan dan panas, sementara kepala jadinya pusing dan gak bisa konsen
. Beberapa kali karena gak kuat aku nekat duduk menggeser pantat penumpang untuk sekedar duduk di tepian kursi. Hmmh… kalau ingat waktu itu…kok bisa ya
Agak longgar baru setelah stasiun Jatinegara, yang notabene hanya tinggal setengah jam lagi ke Pasar Senen. Dan baru saat itulah aku dapat tempat duduk. Rasanya legaaaaaaaaa banget. Dengan duduk secara layak, yang cuma sekitar setengah jam itu, terlupakan semua yang dirasakan tadi
.
Peristiwa kedua lebih dramatis, proses kelahiran anak kedua. Istri mengalami pecah ketuban sejak jam 4 pagi, dan masuk rumah sakit sekitar setengah lima pagi. Sampai jam 9 pagi cuma menunggu saja, nah setelah jam 9 itu baru deh mulai kontraksi-kontraksi. Banyak fragmen yang dilalui istriku, dan juga kusaksikan. Begitu lama proses kelahiran anak kedua ini, sehingga baru keluar dengan sempurna jam 22.10 malamnya.
Dari jam 9 pagi sampai 10 malam itu, ku lihat perjuangan dan susah payahnya seorang istri dalam proses melahirkan. Dan itu diakui juga oleh istriku. Namun begitu tangis si kecil pecah, adalah kelegaan luar biasa yang dirasakan istriku (itu kata istriku lo ya, kalau aku sih cuma lihat aja
). Dan walaupun mengalami rasa sakit dan payah selama belasan jam itu, kata istriku, dia tetap rela demi beberapa menit kelegaan yang dirasakan saat buah hatinya terlahir dengan selamat.
Jadi sifat manusia yang tercermin dalam peribahasa ‘Panas Setahun dihapus oleh Hujan Sehari’ itu memang menurutku adalah sebuah karunia. Manusia membutuhkan sedikit ekstase-ekstase kecil semacam itu untuk bisa tegar kembali menghadapi pahit-manisnya hidup.
Subhanallah…




kampanq